Peringati HJB Ke 544, DPRD Gelar Paripurna Istimewa 

BOGOR. Jurnalaksara.com, – Rapat Paripurna Istimewa memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 tahun 2026, dipimpinh Ketua DPRD Kota Bogor Dr. Adityawarman Adil, Rabu 3 Juni 2026. Hadir pada kesempatan itu Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, jajaran Forkopimda Kota Bogor, Para utusan Kepala Daerah di Jawa Barat dan para Mantan Wali Kota Bogor, tokoh-tokoh masyarakat Kota Bogor serta para undangan lainnya.

Sebelum  Paripurna Istimewa dimulai,  diawali prosesi penyambutan Wakil Gubernuar Jawa Barat, Jajaran Forkopimda, Wali Kota Dedie A Rachim dan Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, dilakukan di halaman Gedung DPRD Kota Bogor. Para pejabat ini dari Balaikota Bogor  menaiki bus uncal, diringi  para pejabat Pemkot  dan tokoh masyarakat peserta upacara HJB ke 544 di Halaman Balaikota Bogor.

Rombongan disambut langsung oleh pimpinan DPRD Kota Bogor, prosesi penyambutan ini diakhiri  dengan melepaskan sejumlah burung merpati putih dan balon ke udara. Sesaat sebelum memasuki Gedung DPRD, rombongan disambut oleh beberapa penyandang tunanetra. Mereka membacakan Perda yang dituliskan menggunakan huruf Braile. Penggunaan huruf Braile sendiri memudahkan para penyandang tunanetra untuk mengetahui dan membaca Perda.

“DPRD berkomitmen untuk menciptakan Bogor yang dinamis dengan penghormatan inklusif terhadap hak, martabat, dan kesempatan yang sama bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas,” kata Ketua DPRD Kota Bogor Aditywarman Adil, mengawali  sambutannya pada Rapat  Paripurna Istimewa memperingati HJB 544 tahun 2026.

Penggunaan huruf Braile ini menjadi perhatian khusus yang diberikan oleh DPRD agar penyandang tunanetra bisa mengetahui dan membaca Perda yang ada di Kota Bogor. “Memenuhi hak-hak penyandang disabilitas adalah tanggung jawab kita semua, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang pada kesempatan ini menjadi salah satu perhatian DPRD Kota Bogor untuk penyandang disabilitas, yaitu dengan mengkonversi alfabet menjadi huruf Braille dalam Peraturan Daerah sebagai salah satu inisiatif DPRD,” ujar Adityawarman.

Rapat Paripurna Istimewa ini berlangsung khidmat sejak pukul 09.30 WIB. Ruangan paripurna didesain khusus menggunakan nuansa tanaman, membuat semaraknya peringatan hari jadi Bogor kali ini. Momentum tahunan ini menjadi ajang penting bagi jajaran pemangku kebijakan untuk merefleksikan kembali sejarah panjang Kota Bogor, sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam membangun daerah ke arah yang lebih maju dan berkelanjutan.

“DPRD Kota Bogor berkomitmen untuk terus mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan pada momentum Hari Jadi Bogor ke-544,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini,  juga mengatakan tema HJB tahun ini, “Bogor Nanjeur”, mengandung makna bahwa Kota Bogor harus terus berdiri tegak dalam jati dirinya, memperkuat komitmen, serta membangun semangat masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Menurutnya, semangat tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata seluruh pemangku kepentingan, termasuk DPRD Kota Bogor yang memiliki fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan dalam mendukung pembangunan daerah.

“Dengan tema Bogor Nanjeur, Kota Bogor harus terus berdiri tegak dalam jati dirinya, memperkuat komitmen, serta membangun semangat masyarakat,” ujar Adityawarman.

Pada momentum HJB ke-544 yang mengusung tema “Bogor Nanjeur” ini, pembacaan Pantun Pacilong karya sastra Sunda klasik dibacakan oleh Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bogor, Taufiq Hasunna ini menjadi salah satu agenda utama yang sarat akan nilai filosofis dan sejarah.

Menelusuri Makna Pantun Pacilong Pantun Pacilong secara historis berisi titah atau wasiat mengenai pendirian Dayeuh Pajajaran dan penamaan Bogor.  Bait ikonik dalam pantun ini mengingatkan masyarakat pada filosofi nama “Bogor” itu sendiri, yang bermakna tunggul kawung (pokok enau). Meskipun batangnya sering dianggap tidak bernilai, bagian ini memiliki ketahanan luar biasa karena apinya terus membara dan berasap panjang. Hal ini melambangkan ketahanan, perjuangan, dan semangat pantang menyerah masyarakat Sunda.  Pelantunan yang dibawakan oleh beliau berfungsi sebagai refleksi sekaligus doa agar Kota Bogor senantiasa nanjeur (jaya, tegak berdiri, dan makmur) dalam mengarungi masa depan.

Memang, peringatan HJB tahun ini mengusung tema ‘Bogor Nanjeur’. Dalam bahasa Sunda, nanjeur berarti tumbuh, bersemi, berakar kuat, kokoh, dan lestari. Tema ini mencerminkan harapan sekaligus tekad bersama agar Bogor terus maju dan berkembang, baik secara fisik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Itulah ungkapan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengawali sambutannya.

Pihaknya mendorong agar kemajuan pembangunan ekonomi Kota Bogor ke depan berjalan seiringan dengan pelestarian lingkungan serta kearifan lokal. Pertumbuhan kota dipastikan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kualitas alam yang selama ini menjadi kekuatan serta identitas utama Kota Bogor.

“Kemajuan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kualitas alam yang menjadi kekuatan dan identitas Kota Bogor. Kita juga harus menjaga serta memelihara budaya dan kearifan lokal sebagai akar identitas yang memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat,” tegas Dedie.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan  menilai Kota Bogor semakin maju di ulang tahun  ke 544 ini. Kunci kemajuan dilihat dari kekompakan pemerintah dan warganya. “Karena sebaik apapun program dari pemerintah tanpa didukung oleh masyrakatnya akan sia-sia. Saya melihat Kota Bogor semakin maju,” jelas Erwan.

Erwan juga mengapresiasi sinergitas yang sudah terbangun di Kota Bogor. Warga dan unsur pemerintah sama-sama saling medukung untuk kemajuan di wilayahnya. “Mulai dari pa Wali Kota pa Wakil Wali Kota, DPRD, jajaran Forkopimda dan juga masyarakat yang sangat kompak. Ini bisa dilihat  dari indikator peningkatan Kota Bogor,” ujarnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *