BOGOR. Jurnalaksara.com, – Berawal dari kekaguman seorang Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff terhadap Kampoeng Baru diselatan Batavia. Kampung tersebut merupakan peninggalan kerajaan Pajajaran yang kemudian dikembangkan Tanujiwa. Karena Indahnya lokasi ini mendorong Baron Van Imhoff untuk membangun sebuah rumah peristirahatan, dilengkapi dengan sebuah kebun besar pada tahun 1745 silam. Bangunan inipun didisain sangat mirip dengan Blehheim Palace, kediaman Duke Malborough, yang kemudian dikenal sebagai Buitenzorg dan pada perkembangannya dijadikan sebagai tempat kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda (kini menjadi Istana Bogor. Ini semua adalah sebagai embrio perkembangan Kota Bogor.
Tempat peristirahatan ini kemudian menjadi poros perkembangan kota, mulai dari pusat pemerintahan, hunian dan perniagaan.Tak heran berbagai bangunan tua peninggalan kolonial masih tersebar di seputar kawasan Istana dan Kebun Raya Bogor. Bangunan-bangunan klasik peninggalan Belanda ini, selain disepanjang jalan Ir.H.Juanda, jalan Jend Sudirman, Jalan Jend. Achmad Yani , jalan Raya Pajajaran dan Jalan Suryakencana, juga akan ditemui di beberapa lokasi wilayah pemukiman diseputar Kota Bogor.

Pastinya kita akan kecewa dan prihatin, ketika tahu ada sejumlah bangunan klasik peninggalan masa silam ini lenyap dan berganti menjadi bangunan komersil, seperti Bangunan Hotel Bellevue berubah menjadi Pasar Tradisonal “Ramayana” kemudian berubah menjadi “Bogor Trade Mall”. Selain itu Gedung Secieteit di jalan Ir.H.Juanda bersebelahan dengan Balaikota Bogor berubah menjadi perkantoran beberapa Bank serta bangunan klasik yang pernah menjadi Kantor PWI Cabang Bogor di jalan Ir.H.Juanda kini berubah menjadi gedung Bank BCA dan masih banyak lagi bangunan klasik peninggalan masa silam yang lainnya kini sudah lenyap ditelan jaman.
Memang, Kota Bogor dalam ingatan, selalu membawa keindahan yang tak pernah terelakkan. Landscape yang menawan, bangunan-bangunan yang eksotis dengan nuansa kenyamanan yang tak terbeli seakan-akan membawa kita untuk terus memejam dalam nostalgi, menikmati keindahan kota tanpa masalah yang kini memaksa pemangku kekuasaan untuk berpikir keras membenahi kotanya.
Dengan sebutan Buitenzorg yang melegenda, Bogor pernah menjadi magnet bagi para penguasa hingga peneliti untuk sekedar singgah di tanah yang pernah disebutkan sebagai Surga ini. Reputasinya sebagai tempat peristirahatan dan pusat penelitian masih tersisa di sudut-sudut kota yang kian kehilangan arah. Sangat disayangkan memang, gedung-gedung klasik peninggalan masa silam ini banyak yang lenyap dan berubah fungsi.
Menurut catatan sejarah kota ini, pada tahun 1860 – 1930-an Bogor yang dikenal dengan Buitenzorg merupakan kota terindah di Jawa dan ramai dikunjungi oleh orang-orang Eropa bahkan dunia. Para pelancong tersebut datang ke Bogor memiliki tujuan yang berbeda-beda, baik itu dalam rangka penelitian ataupun sengaja datang untuk sekedar berwisata menikmati keindahan dan kenyamanan kota Buitenzorg dengan kesejukan udara dan curah hujan yang tinggi. Saat itu Buitenzorg terkenal dengan julukan kota yang memiliki udara tersehat di dunia.
Konon katanya, para pelancong Eropa bahkan dunia ini merasakan begitu istimewanya Buitenzorg yang menjadi tujuan utama pelancong datang ke tanah jawa. Ada beberapa pelancong menuliskan kesan mereka ketika datang ke kota ini dalam sebuah buku perjalanan mereka selama di Buitenzorg.
Kedatangan para pelancong biasanya datang dari Batavia, mereka menuju Buitenzorg dengan menggunakan kereta api Batavia- Buitenzorg. Rata-rata mereka memilih Kereta api kelas utama yang kenyamananya mengalahkan kereta api cepat di Inggris . Setibanya di stasiun Buitenzorg mereka terkejut sekali melihat stasiun Buitenzorg yang sangat nyaman, luas, dan terang benderang.
Keluar dari Stasiun kereta api mereka disambut oleh petugas hotel Bellevue di depan stasiun, dia memberitahukan bahwa kamar telah disiapkan dan kendaraan berupa delman menunggu dan siap mengantarkan bagi mereka yang sudah memesan.
Diluar Stasiun langsung tampak taman Wihelmina park yang indah dan tertata, menengok kearah kanan terdapat lorong jalan yang dinaungi pepohonan itulah Stastionweg (jalan Nyi Rajapermas), berjalan sekitar 5 menit ke arah kiri menyusuri Bantammerweg (jalan Kapt. Muslihat) terdapat Hotel Du chemin de fer yang dimiliki oleh Netherhlansch-Indische Escomploto Maatschappij (kini menjadi Gedung Poresta Bogor Kota). Di ujung jalan langsung terlihat samar-samar Netherlands Plantetuin te Buitenzorg (kini Kebun Raya Bogor).
Lurus dari Bantammerweg ke arah jalan Grootepostweg (Jalan Ir.H.Juanda) tampak Paleis Buitenzorg (Istana Bogor) yang luas nan megah di bangun oleh Gubernur Jenderal Baron Van imhoff pada tahun 1745 dengan gaya klasik yang di pengaruhi Arsitektur Belanda. Pada perkembangannya dijadikan sebagai tempat kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. (Sam Tanara/dari berbagai sumber)

