BOGOR. Jurnalaksara.com, – Allah SWT telah menjadikan sebagian manusia sebagai ujian terhadap sebagian yang lainnya. Yang miskin merupakan ujian bagi yang kaya dan sebaliknya, yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (Al-Furqan: 20)
Tanpa diragukan lagi bahwa keberadaan anak yatim serta kaum dhuafa` seperti fakir miskin, para janda, dan yang lainnya merupakan dua golongan masyarakat yang berhak untuk mendapatkan perhatian dan pemeliharaan. Allah SWT banyak sekali menyebutkan di dalam Al-Qur`an tentang anjuran untuk menyayangi dan berbuat baik kepada dua golongan tersebut.
Coba renungkan, ketika kita menyaksikan tayangan di televisi yang sangat memilukan hati, pemandangan yang sangat tidak menggembirakan umat. Kita melihat dipemberitaan anak-anak usia sekolah gantung diri, hanya karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolahnya. Sampai-sampai ada seseorang yang ingin menjual ginjalnya , hanya untuk menolong saudaranya yang sangat butuh.
Selain itu, ada sebuah fakta yang menyayat hati, seorang ibu yang terpaksa menjual bayinya kepada tetangganya. Alasannya sangat sederhana, mungkin anak itu akan lebih baik jika dipelihara orang lain ketimbang dirinya yang sudah tidak mampu membiayai seluruh kebutuhan hidupnya. Memang sekarang ini sudah bukan rahasia lagi, banyak sekali orang tua sengaja membiarkan anak-anaknya mencari dana sendiri menjadi peminta-minta, pengamen, bahkan melacur, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan sekolahnya, atau kebutuhan mengobati saudaranya.
Kita semua menyaksikan di mana-mana, semakin meluas saudara-saudara kita yang mengemis di pinggir jalan, begitu juga prostitusi, aborsi (pembunuhan janin), penipuan yang semakin merajalela. Sebagian besar itu semua dilakukan oleh umat muslim. Oleh karena itu adalah sesuatu yang sangat bijak untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing, merenung, mengingat apa yang telah kita berikan kepada mereka.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin.” (QS-An Nisa`: 36)
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS-Adh-Dhuha: 9-10)
Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk peduli dengan nasib mereka yang diwujudkan dalam bentuk memberikan bantuan, menyayangi dan berlemah lembut kepada mereka. Telah disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang mengasuh anak yatim akan berada di surga seperti ini, beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan sedikit antara keduanya.” (HR. al-Bukhari )
Sungguh betapa mulianya dan betapa besar keutamaan yang akan diperoleh, bagi mereka yang mengasuh anak yatim. Orang-orang yang mengasuh anak yatim dengan pengasuhan yang sebaik-baiknya, mereka akan dibangkitkan di akhirat nanti dalam keadaan menjadi teman dekat Rasulullah di surga. (Pedoman Ummat, dari berbagai sumber)

