BOGOR. Jurnalaksara.com, – ‘Taman Topi ‘ demikan orang Bogor menyebut tempat ini. Padahal nama sebenarnya adalah Plaza Kapten Muslihat dan Taman Ade Irma Suryani yakni satu-satunya obyek wisata edukasi di Kota ini. ‘Taman Topi’ tidak seharusnya menyebut dengan sebutan demikian, sebab tempat ini memiliki nama resmi yaitu Plaza Kapten Muslihat. Nama tersebut adalah nama seorang pejuang Kemerdekaan Indonesia dari Kota Bogor Tubagus Muslihat. Ia berpangkat Kapten pada saat gugur tertembak dilokasi itu. Hanya saja karena bentuk bangunannya memakai atap berbentuk penutup kepala yakni berbentuk aneka topi, sehingga masyarakat Bogor lebih mengenalnya dengan sebutan ‘Taman Topi’. Nama ini lebih tenar dan populer dibandingkan dengan nama resminya.
‘Taman Topi’ rupanya memiliki sejarah yang panjang. Tak banyak yang tahu, kawasan ‘Taman Topi’ yang kini menjadi Alun-alun Kota Bogor, dulunya sejak masa kolonial adalah sebuah taman kota yakni Wilhelminapark Station Buitenzorg.

Mari kita coba melakukan sedikit “flash back” atau kilas balik, agak jauh rentang waktu yang harus dijangkau, tepatnya tahun 1882. Pada masa tersebut pemerintah Belanda mendirikan berbagai sarana penunjang di sekitar stasiun, berbentuk jalan yang berada tepat di depan bangunan stasiun dan diberi nama Station Weg (jalan Stasiun) belakangan kemudian menjadi jalan Nyi Raja Permas dan lainnya berbentuk sebuah taman. Nama yang diberikan saat itu mengambil nama Ratu Belanda yaitu Wilhelminapark Station Buitenzorg.
Dibuka secara resmi bagi umum bersamaan dengan peresmian jalur Kereta Api Buitenzorg (Bogor) – Batavia (Jakarta) pada tahun 1882. Taman yang ditata indah itu konon memang sengaja dibuat untuk memanjakan mata para pelancong saat pertama kalinya menginjakan kaki mereka di Buitenzorg (Kota Bogor) saat turun dari kereta api. Taman ini jika dilihat dari lokasi sekarang, memanjang dari Bantam Weg (Jalan Kapten Muslihat) sampai dengan bagian utara Pasar Kebon Kembang (dh Pasar Anyar). Konon katanya dahulu sebagian lokasi ini sering dipakai sebagai pasar malam dengan aneka sarana hiburan seperti komidi putar yang biasa disebut korsel. Boleh jadi warisan keindahan kota masa lalu itulah oleh seorang seniman yang juga anggota TNI dari Korem 061 Suryakancana berpangkat Kapten yakni Nursamsi, tercipta sebuah lirik lagu kebanggaan “Kota Kesayangan” kelak kemudian menjadi lagu resmi Mars Kota Bogor, lirik lagu tersebut adalah “Bogor kota indah, sejuk, nyaman. Bagai bunga di dalam taman. Selalu disinggahi wisatawan. Sungguh menarik perhatian. Disana banyak pemandangaan dan peristirahatan. Nan indah tenang serta damai. Disana aku dilahirkan dan aku dibesarkan. Di kota kesayangan.”
Setelah kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1960-an Wilhelminapark Station mengalami perombakan dalam tata ruang taman. Sebagian lahan yang berdekatan dengan pasar dijadikan sebagai area perluasan pasar, sisanya masih berupa taman dan orang Bogor menyebutnya sebagai Kebon Kembang, konon katanya di taman tersebut ada jenis pohon yang tak berhenti berbunga sepanjang tahun, oleh karenanya warga menyebutnya sebagai Kebon Kembang, belakangan diketahui jenis tanaman tersebut adalah pohon Kana.
Pada tahun 1975, eks Kebon Kembang yang tersisa dari lahan luas bekas Wihelminapark Stasion kemudian dialih fungsikan menjadi Terminal Kota dan sebagian lainya dijadikan sebuah obyek wisata diberi nama Taman Ria “Ade Irma Suryani.” Nama tersebut untuk mengabadikan nama puteri Jenderal AH. Nasution yang menjadi korban salah sasaran dalam peristiwa Gestapu PKI yakni Gerakan 30 September pada tahun 1965. Dalam perkembangannya kemudian bekas lahan Terminal Kota dialih fungsikan menjadi kegiatan ekonomi berbasis wisata yakni Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi).

Plaza Kapten Muslihat pada mulanya merupakan lokasi terminal angkutan umum. Pada tahun 1986, Pemerintah Kotamadya Bogor berdasarkan SK Nomor. 61 Kep. Pimpinan DPRD tahun 1986 telah melimpahkan wewenangnya kepada PT. Exotica untuk membangun kawasan rekreasi seluas 2.5 Ha (tanah eks Tenninal Kota dan Taman Ade Inna Suryani). Namun pada akhimya hanya 1.8 Ha saja yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Tujuan utama dari perubahan penggunaan lahan tersebut adalah untuk menyelamatkan ruang terbuka hijau (RTH) yang berada di jantung kota Bogor agar tidak diperuntukkan bagi kepentingan lain yang tidak sesuai dengan fungsi paru-paru kota. Adapun perwujudan dari pembangunan kembali bekas terminal Kota dan Taman Ade Irma Suryani adalah dalam bentuk plaza yang berisikan Pondok Sate, Helm, Amorf, Botol, Gerbong Kereta Api, Sepatu, Topi Miring, Jamur A, Jamur B, Daun Talas, UFO, Daun Alpukat, Apel, dan Daun Pisang.
Saat ini dapat dikatakan seluruh area eks Wilhelminapark Stasion di masa kolonial, Kebon Kembang pasca kemerdekaan, Terminal Kota, Taman Ria Ade Irma Suryani dan Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi), semuanya pernah menjadi kebanggaan warga Kota Bogor. Nama-nama tersebut akan menjadi sebuah kenangan indah, menyusul program Pemerintah Kota Bogor mengembalikan pada kerangka historisnya yaitu tetap menjadikannya sebagai taman hijau yang mampu menyegarkan pandangan mata warga kota dan juga tentunya para pelancong.

Harapan itu sudah teruji dan bukan sekedar janji, karena pemerintah Kota Bogor diujung tahun 2021 telah terbukti kreatif dan berhasil mewujukan taman-taman kota yang indah. Pilihan nama, Alun-alun Kota Bogor adalah nama yang tepat, karena selama ini Bogor sebagai kota tua di negeri ini nyaris tidak memiliki alun-alun yang patut dapat dibanggakan, sebagaimana topografi sebuah kota di pulau Jawa. (Samhudi Tanara dari berbagai sumber).***

