Siapa Manusia?

BOGOR. Jurnalaksara.com, – Al-Qur’an menyebut manusia dengan empat istilah yaitu BASYAR, INSAN, NAS dan BANI ADAM.  Istilah BASYAR lebih banyak melihat manusia dari sisi biologis (fisik atau jasad) atau mengggambarkan manusia secara umum (ada ghorizah: insting) seperti kebutuhan akan makan, minum dan melakukan hubungan badan untuk memperoleh keturunan seperti ungkapan Al-Qur’an di dalam QS. 18-110 (dan terdapat pula di beberapa ayat lain) … Katakanlah : “Sesungguhnya aku ini hanya basyar;  manusia seperti kamu (namun bedanya) diturunkan wahyu kepadaku… (menggambarkan bahwa Nabi Muhammad juga seorang manusia).

Dengan demikian cukup jelas bahwa Al-Qur’an menyebut manusia sebagai BASYAR karena memang diciptakan dengan segala kebutuhan badaninya; seperti  pangan, sandang dan papan (inilah fitrah kholqiyah: fitrah yang berhubungan dengan fisik manusia).           

Kedua, manusia disebut INSAN karena di dalam badan manusia ada ruh yang ditiupkan. Inti kata INSAN ; bahwa manusia itu adalah ruh yang berbadan. Bedanya dengan BASYAR, basyar adalah badan yang berisi ruh—ketika hilang ruhnya maka ia disebut jasad saja—seperti orang yang sudah mati. Jadi titik tekannya agak beda. Silakan pelajari beberapa ayat Al-Qur’an seperti QS. 23: 14-16.. dijelaskan proses penciptaan manusia dari sperma laki-laki yang bercampur dengan ovum (sel telur) perempuan di dalam rahim kemudian dikandung sembilan bulan di dalam perut sang ibu, lalu dilahirkan menjadi manusia baru, seterusnya berkembang menjadi manusia dewasa, tua dan meninggal dunia, tidak berhenti di situ, juga akan dibangkitkan di akhirat kelak untuk dimintai pertanggungan-jawab atas amalnya di dunia. Dengan demikian kata insan menjadi inti sejatinya manusia sehingga muncul ungkapan dari para ulama sufi, bahwa manusia adalah mahluk ruhani yang mendunia bukan sebaliknya mahluk dunia yang beruhani. Sejalan dengan ungkapan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa posisi manusia jauh mengungguli malaikat bila mendekat kepada Allah, beribadah dan beramal soleh; dan sebaliknya akan jatuh, hina dina dan menjijikan (lebih buruk dari binatang) bila berbuat syirik kepada Allah, tidak taat kepada Nabinya; serta melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.     

Adapun kata NAS, titik tekannya pada aspek pergaulan manusia dengan sesamanya sebagaimana yang diungkapkan dalam QS. 4 : 1 dan 49 : 13 : bahwa manusia diciptakan (berproses dari masa kandungan, lahiran, anak-anak, remaja dan dewasa) lalu menikah dan punya keturunan tiada lain agar saling mengenal satu sama lain (ta’aruf) kemudian bekerjasama memakmurkan bumi.

Sedangkan kata BANI ADAM titik tekannya lebih pada kemampuan pengembangan teknologi. Seperti firman Allah dalam QS. 17: 70 : Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami limpahkan rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan.  Sekadar contoh, dahulu kendaraan yang digunakan manusia adalah kuda, unta, keledai dan perahu sederhana tapi sekarang motor, mobil, kereta, pesawat dan kapal laut dengan kecanggihan dan kecepatan luar biasa.

Kesimpulannya, sebutan manusia berdasarkan Al-Qur’an tadi adalah BASYAR ditinjau dari aspek biologis, INSAN; dari aspek psikologis, NAS ; dari aspek sosiologis dan BANI ADAM, dari aspek kemampuan teknologis. (Pedoman Ummat, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *