“Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar ? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (QS – Al-Furqan: 20). “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS-Adh-Dhuha: 9-10)
BOGOR. Jurnalaksara.com, – Ketika kita berbicara anak yatim dan kaum miskin (duafa), keberadaan mereka merupakan dua golongan masyarakat yang berhak untuk mendapatkan perhatian dan pemeliharaan. Allah SWT banyak sekali menyebutkan di dalam Al-Qur`an tentang anjuran untuk menyayangi dan berbuat baik kepada dua golongan tersebut.
Di negeri ini, banyak orang yang tergolong mampu, namun terkesan menutup mata terhadap orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita. Dan kita tahu bahwa salah satu dari empat tujuan negara ini didirikan adalah untuk ”memajukan kesejahteraan umum”, dalam pengertian bahwa negara akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejangteraan masyarakat, dan mengurangi sedikit mungkin adanya orang-orang miskin. Akan tetapi kenyataanya banyak program “digelar” jumlah angka anak terlantar dan orang miskin “angger”, padahal program tersebut konon katanya menguras dana APBN dan APBD triliunan rupiah, Wallahu’alam.
Lalu, bagaimanakah sikap dan perilaku kita terhadap mereka ? Agama telah memberikan panduan kepada kita, bahwa mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita. Siapapun akan terasa tertusuk hati, manakala melihat tayangan di televisi, anak-anak yatim dan anak-anak terlantar serta kaum duafa berdesak-desakan mengantri seonggok daging kurban atau pembagian sedekah di sejumlah daerah yang kerap menelan korban jiwa. Kejadian ini semua, adalah salah satu fakta bahwa kaum muslim di negeri ini tidak konsisten terhadap perintah Allah. Boleh jadi, perhatian kita terhadap anak yatim dan orang miskin menjadi indikator pendusta agama. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al – Ma’un.
“Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.”
Menurut Prof. Dr.H.Nasaruddin Umar,MA pada tausiah di Masjid Istiqlal Jakarta beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa, surat ini diawali dengan kalimat bertanya. Dalam kaidah, apabila Allah memulai ayat-ayat dengan bertanya, pasti di situ ada sesuatu yang Allah akan tekankan pada diri kita : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” siapa yang beragama secara palsu, siapa yang berkamuplase beragama, siapa yang tidak ada artinya beragama, yaitu mereka yang tidak konsen terhadap nasib anak yatim atau orang-orang yatim,” ujarnya.
Di dalam kamus besar bahasa Arab, sambung Nasaruddin Umar, yang dimaksud “al-yatim” adalah, adanya keterputusan antara satu sama lain, karena anak yatim itu terputus dengan kedua orang tuanya. Dalam kamus itu juga dijelaskan, siapapun yang membutuhkan bantuan itu adalah yatim, termasuk dalam sumber itu disebutkan laki-laki dan perempuan yang belum sempat kawin, itu juga masih layak disebut dengan yatim, karena membutuhkan bantuan, sebab pada kodratnya setiap makhluk Tuhan itu adalah berpasang-pasangan, ungkapnya.
Kalau yang dimaksud yatim, jelas Nazaruddin Umar, adalah keterputusan kasih saying. Oleh karena itu, jangan sampai anak kandung kita menjadi yatim, karena kita tidak memberikan kasih sayang kepadanya. “Saya ingin mengingatkan kepada kita semua, dua puluh tiga kali Al-Qur’an menyebutkan kata yatim, ini artinya pasti sangat penting. Sangat memilukan hati, kalau hati kita tidak tergetar menyaksikan pemandangan di media, siapa tahu kita orang yang termasuk celaka, kita percuma beragama menurut ayat ini,” papar Nasaruddin Umar yang juga Wakil Menteri Agama RI ini.
Memang Surah Al – Ma’un memulai ayat pertamanya dengan satu pertanyaan yang tidak harus dijawab, karena pertanyaan itu memang hanya untuk mengingatkan , yaitu: ”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” Dengan pertanyaan ini, Allah mengingatkan tentang dua indikator utama orang-orang yang telah mendustakan agama. Dua indikator itu adalah: orang-orang yang suka menghardik anak-anak yatim. Dan yang kedua adalah orang-orang yang tidak mau mendorong atau memfasilitasi memberi makan orang-orang miskin.
Bahkan, jangan lupa Allah SWT juga memasukkan ke dalam dua indikator itu adalah orang-orang yang lupa akan salatnya. Orang-orang ini melaksanakan salat, tetapi mereka telah berbuat riya dan enggan memberikan bantuan kepada anak-anak yatim dan orang miskin. Allah bahkan menyatakan ”celakalah orang-orang yang salat”, tetapi masih berbuat riya dan tidak mau memberikan bantuan. Allah SWT telah menamakan sebagai orang-orang yang telah ”Lalai terhadap sholatnya. Bahkan Allah SWT juga telah mamasukkan mereka itu ke dalam kategori orang yang juga mendustakan agama. (Pedoman Ummat, dari berbagai sumber)

