BOGOR. Jurnalaksara.com, Bendung Katulampa, merupakan salah satu tempat di Kota Bogor yang populer. Apalagi jika tiba musim penghujan, bahkan warga Jakarta terutama, akan memantau berita di Media tentang kondisi ketinggian air di Bendung Katulampa Kota Bogor. Meski sudah sangat populer, ternyata masih saja banyak orang keliru menyebut Bendung Katulampa menjadi Bendungan Katulampa, padahal antara ‘Bendung’ dan ‘Bendungan’, jelas berbeda.
Kementerian Pekerjaan Umum mendefinisikan bendung sebagai weir, Artinya pembatas yang dibangun melintasi sungai, fungsinya untuk mengubah arah aliran sungai. Itulah yang terjadi di Bendung Katulampa. Ciliwung dibendung, sehingga aliran airnya sedikit berbelok. Sedangkan bendungan didefinisikan sebagai Dam. Ukuran bangunannya jauh lebih besar, Dam berfungsi menahan laju air dan menyimpannya sebagai waduk.
Bendung Katulampa memotong Sungai Ciliwung sepanjang 74 meter. Di Bendung itu terdapat 5 inlaatsluis, atau pintu untuk mengalirkan arus air dan 3 spuisluis atau pintu untuk menahan air. Masing-masing pintu lebarnya 4 meter. Spuisluis akan difungsikan jika volume air naik dan mengancam kawasan hilir.
Menurut sejarahnya, Bendung Katulampa mulai dibangun pada 16 April 1911. Rampung awal Oktober 1912 dan diresmikan pada 11 Oktober 1912. Namun sesungguhya rancangannya sudah dibuat tahun 1889, menyusul banjir besar melanda Batavia (Jakarta) pada tahun 1872 oleh seorang arsitek yang juga pejabat Ingenieur der Gouvernements Waterleidingen (semacam PDAM di Batavia). Banjir kala itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Ciliwung.
Selain untuk mengendalikan banjir, bendung karya Ir. Hendrik van Breen ini juga memiliki fungsi sebagai bendung irigasi. Di Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan ke Kali Baru Timur. Itulah saluran irigasi yang dibangun untuk mengairi ribuan hektar sawah di daerah antara Buitenzorg dan Batavia. Sungai buatan itu mengalir menyusuri sisi Jalan raya Buitenzorg (Groote Postweg), melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, dan bermuara di Kali Besar, Tanjung Priok.
Posisi penting Ciliwung dan Bendung Katulampa bisa dilihat dari siapa yang meresmikan. Bendung Katulampa diresmikan Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg. Waktu itu dia didampingi antara lain oleh Kepala Insinyur Negara Roos, Ir. Van Dissel, Ir. Hendrik van Breen, pengawas Leuwiliang dan Bogor, anggota dewan Ebbink, adminsitrator D. Veenstra (Ciluar), Mulder (Kedung Halang), Valette (Pondok Gede), Sol (Ciomas), Residen Batavia, Asisten Residen (setingkat wedana) Buitenzorg, dan para Patih Buitenzorg, Batavia dan Meester Cornelis. Peresmian bendung tersebut dimeriahkan permainan gamelan dan pertunjukan tari-tarian, serta upacara selamatan.

Bendung Katulampa juga berfungsi sebagai sistem informasi dini terhadap bahaya banjir Ciliwung. Data ketinggian air Bendung Katulampa menjadi penting untuk mengukur debit air yang dalam tempo 3 – 4 jam akan sampai Depok dan selanjutnya masuk Jakarta. Dengan demikian masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar Ciliwung sudah dapat mengantisipasi sedini mungkin datangnya air banjir yang akan melanda wilayah mereka.
Semua data dilaporkan ke berbagai pihak, antara lain Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Pos Pemantau ketinggian air Ciliwung di Depok, dan petugas Pintu Air Manggarai serta ke Pemerintah Kota Bogor. Selanjutnya informasi tersebut disebarluaskan melalui media elektronik, seperti televisi, radio dan media online berbasis Internet. Saat ini telah dikembangkan aplikasi Jakarta Flood Alert berbasis Android, yang bisa diunduh gratis di http://siagabanjir.org/en/, sehingga masyarakat bisa langsung mendapatkan data dan informasi banjir secara live dan up-to-date. (Sam Tanara/dari berbagai sumber)

